Sampai (Tak) Jumpa Lagi

Salah satu hal menyedihkan dari tiap pertemuan adalah perpisahan. Dan, perpisahan paling pedih justru malah yang tidak direncanakan. 

Sungguh ironis karena dualitas ini justru tak terpisahkan satu sama lain.

Hal ini seringkali membuatku merenung dan menekuri tiap-tiap perjumpaan dengan para manusia, baik yang kukenal intim, sampai yang tak lebih dari sekadar sobat basa-basi atau bahkan hanya kuingat wajahnya saja. 

Dahulu, tak pernah terpikir olehku bahwa meninggalkan kesan terbaik pada tiap-tiap insan yang kutemui adalah sebuah ‘sesuatu’. Karena pada akhirnya, kita tidak bisa mengontrol apa yang tiap orang pikirkan tentang kita. Sungguh sebuah hal yang sia-sia. 

Pikirku saat itu.

Namun satu dan lain hal kini membuka mataku tentang impresi terakhir yang ditandai seseorang sebelum akhirnya mereka meyakini bahwa aku dan mereka akan ‘berpisah’. Bagai juri dan kontestan, akulah juri yang menilai performa terakhir dari yang bersangkutan.

Bercengkrama hangat, memberi hadiah serta salam perpisahan, atau bertukar kontak tuk sekadar bersapa lagi di lain waktu. Tidakkah semua itu lebih dari cukup untuk mendapat impresi terbaik? Sangat baku dan formil. Perpisahan yang barangkali sedih, namun punya kesan yang indah. Penutup yang cukup sempurna.

Bagaimana dengan perpisahan yang tak direncanakan?

Siapa yang menyangka bahwa bertukar kontak, hadiah, dan salam hangat ternyata tak cukup dan tak lebih dari sekadar formalitas semu. Siapa yang bisa memastikan bahwa kita akan bertemu lagi kelak? Adakah janji untuk saling berbagi kabar hanyalah cara lain menghindari canggung dan tak lebih dari sekadar basa-basi?

Ataukah kita sama-sama tidak mengantisipasi bahwa pertemuan ini adalah yang terakhir kali?

Tak terbayang olehku, dari ribuan manusia yang telah berkontak langsung sepanjang hayat, berapa lagikah yang akan kutemui lagi nantinya? Siapa sajakah yang ternyata tak akan lagi kubersua dengannya?

Karenanya, akan kuusahakan impresi terbaik itu kepada semua manusia yang memberi kebaikan bagiku. Meskipun hanya sekadar senyuman dan sapaan hangat basa-basi.

Sejujurnya aku tak tahu mengapa perlu melakukan ini. Namun aku merasa ini adalah hal baik yang setidaknya bisa kulakukan. Selama tidak merugikan diriku secara moril, serta mampu memberi arti terbaik bagi hidupku dan hidup manusia itu kelak, kenapa tidak?

Kan kulakukan yang terbaik sebisaku agar tak ada lagi yang perlu disesali.

Lagipula, pada setiap perpisahan, akan selalu ada awal yang baru. Kisah yang baru. Entah itu di lembar, bab, atau bahkan buku yang benar-benar baru.Tak melulu harus di tempat yang sama, langit yang sama, ataupun alam yang serupa. Aku percaya akan perjumpaan berikutnya kelak.

2 Maret 2025


Komentar

Tinggalkan komentar