Tergesa

Bertahun ke belakang banyak belajar tentang tergesa. Bahwa tak semua yang cepat tiba pada akhir yang tepat. Dan tidak semua yang lamban mutlak terlambat.

Kenyang sudah aku mendengar bahwa tiap orang punya finish nya masing-masing. Namun seringkali kita tergoda apabila seseorang sudah mencapai puncak ideal yang kita gadang-gadang. Harapan awal hari, mimpi siang bolong, ratapan sepertiga malam, dan segala keinginan primordial bergaung liar di luar kendali. Tanpa sadar, segala pacu ikut dipecut. Semua rencana dipaksa terjaga. Semua demi ego sesaat yang bisa jadi sesat. Dan, hal terakhir yang membuatmu tersadar adalah segala ketergesaan tadi seringkali berbuah prematur. Memaksa diri untuk mundur teratur.

Kini aku paham, apa yang kumau belum tentu kubutuhkan. Dan apa yang aku butuhkan ternyata sudah ada dalam genggaman. Sedikit tamparan kadang kala dibutuhkan agar kita semua sadar tentang esensi dan kesejatian akan hal-hal yang sudah kita miliki. Tamparan yang sama barangkali diperlukan lebih keras apabila kita terlalu lepas mencari makna kesejatian itu.

Kembali lagi ke kertas maya yang sama, yang pastinya tak akan ke mana-mana. Tulisan ini lagi-lagi menyimpulkan satu hal yang sama: Pada akhirnya, aku masih berada dalam naungan yang aman. Lingkaran yang nyaman. Semua yang kubutuhkan ada dalam genggaman. Yang belum ada hanya nyali untuk melangkah dan melompat lebih jauh. Aku siap ingin lebih, namun tidak dengan risikonya.

Kini aku tau apa yang kusut di kepala. Justifikasiku kini punya nama: Aku tak mau tergesa.

Selamat tahun baru.

Jakarta, 6 Jan 2016


Komentar

Tinggalkan komentar